Lanjutan terakhir dari etos kerja
Monday, April 9th, 2007Etos kedelapan: kerja adalah pelayanan.
Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga
mercu suar,
semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.
Pada
pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang lelaki tua
sebatang
kara karena ditinggal mati oleh istri dan anaknya. Bagi
kebanyakan
orang, kehidupan seperti yang ia alami mungkin hanya berarti
menunggu
kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah
Cavennen, sebuah
daerah yang sepi. Sambil menggembalakan domba, ia memunguti
biji oak,
lalu menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang membayarnya.
Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal dalam usia 89 tahun, ia
telah meninggalkan sebuah warisan luar biasa, hutan
sepanjang 11 km!
Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus
menjadi subur.
Semua itu dinikmati oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal.
Di
Indonesia
semangat kerja serupa bisa kita jumpai pada Mak Eroh yang
membelah bukit untuk mengalirkan air ke sawah-sawah di
desanya di
Tasikmalaya, Jawa Barat. Juga pada diri almarhum Munir,
aktivis
Kontras yang giat membela kepentingan orang-orang yang
teraniaya.
"Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan
dilengkapi keinginan
untuk berbuat baik," kata Jansen. Dalam bukunya
Ethos21, ia menyebut
dengan istilah rahmatan lii alamin (rahmat bagi sesama).
Pilih cinta atau kecewa
Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas itu
bersumber pada
kecerdasan emosional spiritual. Ia menjamin, semua konsep
etos itu
bisa diterapkan di semua pekerjaan.
"Asalkan pekerjaan yang halal," katanya.
"Umumnya, orang bekerja itu
kan
hanya untuk nyari gaji. Padahal pekerjaan itu punya banyak sisi,"
katanya.
Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga mencari
makna.
Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 - 40 tahun untuk
bekerja.
Setelah itu pensiun, lalu manula, dan pulang ke haribaan
Tuhan. "Manusia itu makhluk pencari makna. Kita harus
berpikir, untuk
apa menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu `
kan
waktu yang
sangat
lama," tambahnya.
Ada
dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias pada pekerjaan.
Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan
bakat. Dengan
begitu, bekerja akan terasa sebagai kegiatan yang
menyenangkan.
Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan aturan
kedua:
kita harus belajar mencintai pekerjaan. Kadang kita belum
bisa
mencintai pekerjaan karena belum mendalaminya dengan benar.
"Kita
harus belajar mencintai yang kita punyai dengan segala
kekurangannya," kata sarjana Fisika ITB yang lebih suka
dengan dunia
pelatihan sumber daya manusia ini. Hidup hanya menyediakan
dua
pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika
tidak
bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh
"5-ng":
ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel. Jansen
mengutip
filsuf Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, "It’s not
doing the thing
we like, but liking the thing we have to do that makes life happy."
"Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan banyak
hal yang
tidak kita sukai. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Tidak
mungkin
kita mau enaknya saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau
ketemu
duri," ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos
ini. Dalam
dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai macam bentuk.
Gaji yang
kecil, teman kerja yang tidak menyenangkan, atasan yang
kurang
empatik, dan masih banyak lagi. Namun, justru dari sini kita
akan
ditempa untuk menjadi lebih berdaya tahan. Bukan gila kerja.
Dalam urusan etos kerja, bangsa
Indonesia
sejak dulu dikenal
memiliki
etos kerja yang kurang baik. Di jaman kolonial, orang-orang
Belanda
sampai menyebut kita dengan sebutan yang
mengejek, in lander pemalas. Ini berbeda dengan, misalnya,
etos
Samurai yang dimiliki bangsa Jepang. Mereka terkenal sebagai
bangsa
pekerja keras dan ulet. Namun, Jansen menegaskan, pekerja
keras sama
sekali berbeda dengan workaholic. Pekerja keras bisa
membatasi diri,
dan tahu kapan saatnya menyediakan waktu untuk urusan di
luar kerja.
Sementara seorang workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen,
kondisi
kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua pihak.
Bukan hanya
bawahan, tapi juga
atasan.
Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja keras,
sementara ia sendiri secara tidak sengaja melakukan sesuatu
yang
melunturkan semangat kerja bawahan. Jansen memberi contoh,
atasan
yang mengritik melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi tak
pernah
memujinya jika ia menunjukkan prestasi. Secara manusiawi hal
itu akan
menyebabkan bawahan kehilangan semangat bekerja.
Buat apa bekerja keras, toh hasil kerjanya tak akan
dihargai. Ingat,
pada dasarnya manusia menyukai reward. Konosuke Matsushita,
pendiri
perusahaan Matsushita Electric Industrial
(MET) punya teladan yang bagus. Pada zaman resesi dunia tahun 1929-
an, pertumbuhan
ekonomi Jepang anjiok tajam. Banyak perusahaan mem-PHK
karyawan. MEI
pun terpaksa memangkas produksi hingga separuhnya. Namun,
Matsushita
menjamin tak ada satu karyawan pun yang bakal terkena PHK. Sebagai
gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja keras.
Karyawan-karyawan
bagian produksi dilatih untuk menjual. Hasilnya benar-benar
ruarrr
biasa.
Mereka bisa berubah menjadi tenaga marketing andal, yang membuat
Matsushita menjadi salah satu perusahaan terkuat di Jepang.
Bagaimana dengan Anda?